Wahai penempuh jalan Allah, hendaknya Anda menetapi jalan akhirat
melalui ajaran yang telah diperintahkan kepadamu dalam aktivitas
lahiriahmu. Bila Anda telah melakukannya, maka duduklahdalam hamparan
Muraqabah. Raihlah dengan penjernihan batinmu, hingga tak tersisa
sedikitpun yang menghalangimu. Berikanlah hak keseriusan dan
ketekunanmu, lalu minimkanlah pandanganmu untuk melihat lahiriahmu.
Apabila Anda ingin dibukakan rahasia batinmu, untuk mengetahui rahasia
alam malakut Tuhanmu berupa intuisi ruhani yang datang kepadamu yang
kemudian dihalangi oleh bisikan-bisikan yang manjauhkan dari
keinginanmu, maka ketahuilah pertama-pertama, bahwa kedekatanTuhanmu
pada dirimu merupakan ilmu yang langsung berkaitan dengan hatimu,
melalui pengulangan terus menerus pandangan dalam menarik kemanfaatanmu
dan menolak bahayamu. Lihatlah firman Allah Swt.: “Adakah sang Khalik
selain Allah, yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi”
Sesungguhnya
yang dari bumi adalah nafsumu, dan yang dari langit adalah hatimu.
Apabila ada sesuatu yang turun dari langit ke bumi, lalu siapakah yang
memalingkan dari dirimu pada selain Allah: “Allah mengetahui apa yang
ada di dalam bumi dan apa yang keluar darinya, serta apa yang turun dari
langit dan apa yang naik di dalamnya. Dan Allah menyertaimu dimanapun
kamu berada.” (Qur’an)
Berikanlah hak kesertaanNya dengan
konsistensi ubudiyah kepada-Nya dalam aturan-aturan-Nya. Tinggalkan
kontra terhadap Sifat Rububiyah dalam Af’al-Nya. Siapa yang kontra
kepada-Nya akan kalah: “Dan Dia adalah Maha Perkasa di atas hamba-Nya,
dan Dia Maha Bijaksana dan Maha Meneliti.”
Apa yang saya katakan
kepadamu ini sungguh benar: “Tiada yang muncul dari nafas-nafasmu,
kecuali Allahlah yang mengaturnya, apakah Anda pasrah atau menolak.
Karena Anda ingin pasrah pada suatu waktu, dan Anda mengabaikan, di
waktu yang lain. Atau Anda ingin kontra pada suatu saat, lalu Anda
mengabaikan, kecuali yang ada hanya pasrah. Semua itu menunjukkan
Rububiyah-Nya dalam seluruh tindakan-Nya apalagi pada sisi orang yang
sibuk dengan menjaga hatinya untuk meraih hakikat-hakikat-Nya.
Apabila
permasalahannya sedmikian rupa, maka berikanlah haknya adab
berkaitan dengan apa yang datang kepadamu, dengan Anda bersaksi terhadap
sesuatu dari dirimu bahwa tiada awal kecuali dengan Awal-Nya, dan tiada
yang akhir kecuali dengan Pengakhiran-Nya, tiada dzahir kecuali dengan
Dzahir-Nya, tiada batin kecuali dengan Batin-Nya. Apabila Anda telah
sampai pada awalnya awal, Anda akan melihat, terhadap apa yang
dilimpahi-Nya.
Apabila muncul suatu bisikan dari Sang kekasih
yang sesuai atau tidak dengan dirimu, yang tidak diharamkan syariat,
maka lihatlah mengapa Allah ciptakan di dalam dirimu melalui pengaruh
intuitif dalam kondisimu. Bila Anda menemukan bnentuk peringatan yang
menyadarkan Anda pada Allah Swt, Anda harus membenarkannya. Itulah adab
waktu bagi Anda. Anda jangan kembali pada selain itu. Apabila Anda
tidak menemukan jalan pembenaran, maka tanjakkan diri ke hadapanNya,
maka itulah adab waktu pada dirimu. Namun bila Anda kembali kepada
selain jalan itu, berarti Anda telah salah jalan.
Apabila hal itu
tidak muncul dari dirimu, Anda harus bertawakal, ridha dan pasrah.
Bila masih belum menemukan jalan menempuhnya Anda harus berdoa agar
bisa menarik menfaat dan menolak bencana dengan disertai taslim dan
pasrah total. Saya peringatkan agar anda tidak berupaya demi sebuah
pilihanmu, karena ikhtiyar demikian merupakan keburukan di mata orang
yang memiliki mata batin.
Dengan demikian ada empat adab:
Adab Tahqiq
Adab Keluhuran
Adab Tawakal
Adab Doa.
Siapa yang mendapatkan hakikat bersama-Nya akan terjaga oleh-Nya.
Siapa yang diluhurkan oleh Allah, cukuplah bersama Allah, tanpa lainNya.
Siapa yang tawakal kepadaNya, ia melepaskan ikhtiar/pilihan dirinya, menyandarkan pada pilihan-Nya.
Siapa
yang mendoa pada-Nya dengan syarat menghadap dan mahabbah pada-Nya,
Insya Allah akan diijabahi menurut kelayakan dari-Nya. Atau doanya tidak
diijabahi —jika Dia menghendaki— karena kehendak doanya tidak
membuatnya maslahat. Setiap masing-masing etika ini ada hamparan
keleluasaan.
Hamparan pertama, adalah keleluasaan “tahqiq”.
Apabila ada sesuatu intuisi (bisikan halus) yang datang kepadamu tanpa
tahqiq, lalu engkau dibukakan sifat-sifat-Nya, maka seharusnyalah Anda
tetap dengan rahasia batin Anda, dan diharamkan Anda menyaksikan selain
Allah Ta’ala.
Hamparan kedua, adalah hamparan keluhuran.
Manakala datang intuisi kepadamu, selain keluhuran, dan Anda dibukakan
melalui Af’al-Nya, maka luhurkanlah dirimu di sana melalui rahasia
batinmu. Anda diharamkan menyaksikan selain Sifat-sifat-Nya, dan Anda
sebagai pihak yang menyaksikan dan disaksikan. Pada tahap pertama
adalah fana’nya penyaksi, kemudian fana’nya yang disaksikan (Anda
sebagai yang disaksikan dalam fana’).
Hamparan ketiga, adalah
hamparan tawakal. Apabila datang kepadamu suatu intuisi selain tawakal,
saya maksudkan adalah apa yang kami sebut terdahulu, baik Anda senangi
atau tidak, dan Anda dibukakan cacat-cacat bisikan, maka duduklah pada
hamparan cinta-Nya, sembari bertawakal pada-Nya, ridha terhadap yang
tampak pada dirimu berupa dampak dari perbuatan-Nya dalam cahaya
tirai-Nya.
Hamparan keempat, adalah hamparan doa. Apabila
muncul bisikan intuisi yang lain, lantas Anda dibukakan bentuk
kebutuhan (kefakiran) Anda kepada-Nya, maka Allah telah menunjukkan akan
Kemahakayaan-Nya. Raihlah kefakiran sebagai hamparan, dan waspadalah
untuk tidak jatuh dari derajat ini pada tahap lainnya, dikawatirkan
Anda terjerumus dalam makar Allah sementara Anda tidak tahu.
Minimal,
bila Anda mengalami kejatuhan dari derajat tersebut, Anda akan
kembali pada diri Anda, sebagai pengatur atau pemilih yang menyebabkan
Anda memuliakan diri Anda, dan selanjutnya tak ada kondisi ruhani bagi
Anda untuk membawanya secara serius dan tekun, baik dalam lahiriyah
maupun batin Anda, dengan mengharapkan agar Anda diberi sebagaimana
Allah memberinya. Lalu bagaimana Anda bisa menentang-Nya, terhadap
hal-hal yang Allah tidak berkehendak memberikan kepadamu.
Maka,
dampak paling minimal dalam pintu ini, adalah tuduhan-tuduhan syirik,
bahwa Anda telah menang, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Apabila
Anda memang menang, lakukanlah sekehendakmu, dan Anda tidak akan mampu
melakukan menurut kehendakmu selamanya. Ini menunjukkan besarnya
ketekunanmu dalam memamahi tindakan-tindakan Allah Swt. Aku tidak akan
ikut pada seorang hamba yang bodoh, atau seorang Ulama yang fasik.
Saya
tidak tahu, dimana posisi Anda pada dua sifat ini; apakah pada
kebodohan atau kefasikan, atau kedua-duanya? Kami mohon perlindungan
Allah dari pengabaian jiwa dari mujahadah, dan kosongnya qalbu dari
musyahadah. Pengabaian diri akan menolak syariat, dan pengosongan akan
menolak tauhid. Sedangkan Sang Hakim telah membawa syariat dan tauhid.
Karena itu tempuhlah dengan cara menjauhkan diri dari kontra terhadap
Tuhanmu, agar menjadi orang yang bertauhid. Amalkanlah rukun-rukun
syariat agar kamu menjadi pelaku Sunnah. Integrasikan keduanya dengan
mata hati yang lembut, maka Anda akan meraih hakikat. Sebagaimana
firman-Nya: “Atau tidakkah cukup bersama Tuhanmu, bahwa Dia Maha
Menyaksikan segalanya?”
Kemudian bila muncul intuisi dalam
muraqabahmu yang tidak disahkan oleh syariat atau pun yang disahkan
syariat, atas apa yang berlalu dari dirimu, maka lihatlah apa yang
diperingatkan dan diwaspadakan kepadamu. Apabila intuisi itu menjadikan
Anda ingat kepada Allah, maka adab Anda adalah mentauhidkan-Nya di atas
hamparan KeEsaan-Nya. Namun bila Anda tidak demikian, adab Anda adalah
melihat adanya limpahan karunia-Nya, yang menempatkan dirimu melalui
Kemahalembutan Kasih-Nya. Dan Dia menghiasi dengannya melalui kepatuhan
pada-Nya, dengan mencintai-Nya secera khusus di atas hamparan
Kasih-Nya.
Apabila Anda turun dari pintu derajat ini, sementara
Anda tidak berkenan di sana, maka adabmu adalah memandang
keutamaan-Nya, karena Dia telah menutupimu atas tindakan maksiat
kepada-Nya, dan tirai itu tidak dibuka untuk makhluk lain. Namun apabila
Anda berpaling dari adab ini, dan Anda ingat akan maksiat Anda,
sementara Anda tidak diingatkan dengan tiga adab di atas, maka
seharusnya Anda beradab dengan doa dalam taubat, atau sepadannya, demi
meraih ampunan menurut tindak kejahatan yang anda lakukan, yang
merupakan salah satu sisi dari yang dibenci syariat.
Namun
apabila yang datang adalah intuisi ketaatan, lalu Anda datang dan
mengingat siapa yang memberikan limpahan manfaat kepadamu, maka
janganlah matamu memandang sejuk karenanya, tetapi harus mengingat pada
Allah Yang memunculkannya. Sebab apabila pandangan mata Anda sejuk
tanpa menyertakan-Nya, berarti Anda telah turun dari derajat hakikat.
Apabila
Anda tidak berada pada derajat tersebut, hendaknya Anda menempati pada
derajat berikutnya. Yaitu Anda menyaksikan akan keagungan keutamaan
Allah terhadap diri Anda, karena Anda telah dijadikan sebagai orang yang
layak dan pewarisnya berupa rizki kebaikan dari derajat tersebut.
Bahkan diantara tanda-tandanya yang menunjukkan atas kebenarannya.
Apabila Anda tidak menempatinya dan turun di bawahnya, maka Adab Anda
adalah merenungkan secara mendalam pada ketaatan tersebut, benarkah hal
itu memang taat yang sebenarnya dan Anda sendiri selamat dari
tuntutan-tuntutan di dalamnya? Ataukah sebaliknya, justru Anda tersiksa
karenanya? Na’udzubillah! dari segala kebajikan yang kembali pada
keburukan. “Dan tampaklah pada mereka dari Allah, apa-apa yang tidak
mereka perhitungkan.”
Jika Anda turun dari derajat ini pula
kepada derajat lain, maka etika atau adab Anda adalah mencari
keselamatan dari derajat tersebut baik melalui kebaikan maupun
keburukannya. Seharusnya tujuan Anda yang berangkat dari kebajikan Anda
lebih banyak dibanding tujuan dari pelajaran keburukan Anda, apabila
Anda masih menginginkan termasuk golongan orang-orang shalih.
Apabila
Anda inginkan suatu bagian, sebagaimana yang diberikan kepada
wali-wali Allah Swt. Anda harus menolak semua manusia secara total,
kecuali pada orang yang menunjukkan kepada Allah melalui petunjuk yang
benar dan amal yang kokoh yang tidak kontra dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Berpalinglah
dari dunia sepenuhnya, Anda jangan sampai tergolong orang yang ditawari
dunia karena tindakan itu. Namun seharusnya Anda menjadi hamba Allah
yang diperintah untuk melawan musuhNya. Jika Anda berada pada posisi
dua karakter ini: berpaling dari dunia dan zuhud dari manusia, maka
tegakkanlah muraqabah (mawas diri untuk fokus kepada Allah, menetapi
taubat dengan penjagaan diri, memohon ampunan kepada Allah melalui
kepasrahan dan kepatuhan terhadap aturan-aturan secara istiqamah.
Penafsiran empat adab tersebut: Adalah hendaknya anda menjadi hamba Allah, dengan cara:
Mewaspadakan
hatimu agar tidak melihat di semesta raya ini sesuatu pun selain Allah
Swt. Bila anda merasa meraih ini, akan ada panggilan intusi kebenaran
dari Cahaya Kemuliaan, bahwa anda telah buta dari Jalan Benar, karena
darimana anda mampu melakukan Muroqobah?
Hendaknya anda
mendengarkan firman Allah Swt, “Dan Allah adalah Maha Mengawasi segala
sesuatu.” Dengan begitu anda merasa malu atas taubat anda yang anda duga
sebagai taqarrub, maka kokohkanlah taubatmu dengan menjaga hatimu. Dan
jangan anda pandang bahwa taubat itu muncul darimu, yang membuat dirimu
malah keluar dari jalan yang benar.
Bila anda merasa bahwa semua
itu datang dari diri anda, maka akan muncul intuisi ruhani yang hakiki
memanggilmu dari sisi Allah Ta’ala, “Bukankah taubat itu datang dariNya
dan kembali padaNya? Sedangkan kesibukanmu yang menjadi sifatmu, adalah
hijabmu atas kehendakmu?” Maka disanalah anda memandang sifat dirimu,
lalu anda mohon perlindungan kepada Allah Swt, dari sifat itu. Lantas
anda beristighfar dan kembali kepadaNya.
Istighfar itu berarti mencari tutup terhadap sifat-sifat burukmu dengan cara kembali kepada Sifat-sifatNya.
Apabila
anda mampu beristighfar dan kembali, akan muncul pula panggilan hakiki
seketika, “Tunduklah dengan aturan-aturanKu, dan tinggalkanlah
penentangan terhadapKu, teguhlah dengan kehendakKu dengan melawan
kehendak dirimu. Karena kehendakmu adalah bentuk pengambil alihan sifat
Ketuhanan atas kehambaanmu. Maka jadilah engkau “hamba yang benar-benar
dikuasai, tidak meliki kemampuan apa pun.” Sebab jika dirimu merasa
mempunyai kemampuan, maka justru akan dibebankan padamu, sedangkan Aku
Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar